Monday, March 22, 2021

Hubungan Agama dan Sains

 


KONSEP PEMIKIRAN MEHDI GOLSHANI : AGAMA DAN SAINS

Moh. Ainul Yakin*1, Nur Aimmatul Aula2, Helmi Syaifuddin3

1Magister Manajemen Pendidikan Islam, 2,3Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang E-mail: *1 ainolyaqin772@gmail.com, 2aimmatulaula@gmail.com, 3helmi.syaifuddin@uin-malang.ac.id



Abstract:Religion and science are forces capable of transforming human life. Both try to direct and provide welfare for mankind. With their advantages and limitations, these two subject figures are proven to have made a real contribution to improving the standard of human life. Mehdi Golshani is one of the philosopher who expressed his opinion on religion and science. The purpose of this study was to determine the concept of religious and scientific thought according to Mehdi Golshani. The research method used is literature / literacy. By examining the contents of the book, the substance of the discussion and the focus of the character's study and thoughts. The object is in the form of several research journal books which contain Mehdi Golshani's thoughts on religion and science. The results in the context of Mehdi Golshani's thought are used as a way to solve all natural phenomena, where the climax of all of them is to internalize self-awareness of the existence and power of God of the universe. The natural phenomenon that exists in human life is not just a coincidence, nor does it occur in the middle of nowhere.


Keywords: Religion, Science, Mehdi Golshani.


Abstrak: Agama dan sains adalah kekuatan yang mampu mentransformasi kehidupan manusia.  Keduanya berusaha mengarahkan dan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Dengan kelebihan dan keterbatasannya, kedua subjek ini terbukti memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan taraf hidup manusia. Mehdi Golshani adalah salah satu filsuf yang mengutarakan pendapatnya tentang agama dan sains. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep pemikiran religius dan ilmiah menurut Mehdi Golshani. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka / literasi. Dengan menelaah isi buku, substansi pembahasan serta fokus kajian dan pemikiran tokoh. Objeknya berupa beberapa buku jurnal penelitian yang memuat pemikiran Mahdi Golshani tentang agama dan sains. Hasil pemikiran dalam konteks pemikiran Mehdi Golshani digunakan sebagai cara untuk menyelesaikan semua fenomena alam, dimana puncaknya semuanya adalah menginternalisasi kesadaran diri akan keberadaan dan kekuatan Tuhan semesta alam. Fenomena alam yang ada dalam kehidupan manusia bukan hanya kebetulan, juga tidak terjadi di antah berantah.

Kata Kunci: Agama, Sains, Mehdi Golshani



Pendahuluan

Menurut Ian Barbour menyatakan bahwa dalam percaturan sejarah, pada abad ke-17, pertemuan sains dan agama terwujud dalam situasi persahabatan. Bahkan, mayoritas penggagas revolusi ilmiah dalam dunia sains adalah penganut Kristen taat yang berkeyakinan bahwa tujuan kerja ilmiah pada hakikatnya adalah mempelajari ciptaan Tuhan.1 Antara kedua elemen penyokong peradaban tersebut saling terintegrasi, terutama dalam memandang kosmos; manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Bahkan, jauh sebelum peradaban Barat lahir, peradaban-peradaban Kuno, Timur dan Islam terlebih dulu mengintegrasikan antara sains dan agama; tidak ada dikotomi antara kedua elemen tersebut. Seiring kelahiran modernisme terjadi


1Ian G.Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, (Bandung : Mizan, 2002), hal. 13.

61


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


disintegrasi antara sains dan agama. Bahkan, hingga kini pandangan-dunia saintifik telah mengkonstitusi tantangan terhadap pemahaman kita tentang alam, manusia dan Tuhan –yang awalnya mungkin mengancam (pandangan keagamaan) namun berpotensi kreatif.

Menurut Arthur Peacocke, Kredibilitas semua agama tengah dipertaruhkan di bawah pengaruh: pemahaman-pemahaman baru tentang dunia alamiah. Tantangan sains terutama ditujukan terhadap teologi, yang berkaitan dengan artikulasi dan justifikasi pernyataan- pernyataan agama mengenai Tuhan dengan alam dan manusia.2 Pertarungan tajam antara sains modern dan agama dimulai setidaknya sejak pertengahan abad ke-19 M di Barat.3 Menurut Ian

G. Barbour, konflik antara sains dan agama terjadi terutama antara penganut materialisme ilmiah dalam sains dan penganut literalisme biblical dalam pemahaman agama. Sebagaimana diketahui bahwa matrealisme ilmiah adalah sebuah pandangan dunia yang sempat menjadi mainstream dalam dunia sains dan bahkan pemikiran modern, selama tiga ratus tahun terakhir, yang tentu saja intensitasnya bergradasi.

Menurut John F. Haught, Secara historis, diskursus mengenai hubungan agama dan ilmu pengetahuan (baca: sains) sudah berlangsung dalam periode sejarah yang cukup panjang. Dalam kurun waktu yang panjang tersebut, relasi agama dan sains mengalami berbagai dinamika. Pada momen tertentu, relasi agama dan ilmu pengetahuan berada pada garis persinggungan. Di sini, agama tidak menjalin harmonisasi dengan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, agama dan ilmu pengetahuan terjebak dalam hubungan oposisi binner. Pada masa ini, agama dengan segala nilai keagungan dan kemagisannya, menjadi satu pandangan dogmatik yang mengambil alih keseluruhan aspek kehidupan masyarakat. Agama memegang kendali di segala lini. Bukan saja pada aspek teologis yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga pada aspek lain di luarnya. Bahkan ke ranah kebebasan berpikir dan bernalar sekalipun. Dalam sejarahnya, masa ini dikenal dengan sebutan teosentris (belief age), bahwa ilmu pengetahuan berada di bawah kendali agama.4

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pemikiran Mehdi Golshani mengenai agama dan sains. Dengan berfokus pada satu pertanyaan bagaimana konsep pemikiran agama dan sains menurut Mehdi Golshani ?

Methode

Metode penelitian yang digunakan adalah literatur/literasi. Secara general, literatur dalam artikel ini adalah bahan bacaan berupa buku dan beberapa jurnal/majalah yang bersifat keagamaan, yang didalamnya mengandung pemikiran dari Mehdi Golshani. Dengan mengkaji isi buku, substansi pembahasan dan fokus kajian tokoh dan pemikirannya. Obyek berupa beberapa buku dan jurnal penelitian yang didalamnya mengandung pemikiran Mehdi Golshani mengenai agama dan sains.

Hasil dan Pembahasan

1.Biografi Mehdi Golshani

Mehdi Golshani adalah seorang ilmuan kontemporar dan filsuf yang berkebangsaan Iran dan juga merupakan seorang profesor fisika di Sharif University of Technology. Riset

2Arthur Peacocke, Paths From Science Toward God, (Oneworld: Oxford, 2002), hal. 15.

3Ian G.Barbour (2002), Zainal Abidin Bagir, Riwayat Barbour, Riwayat “Sains dan Agama”, pengantar untuk Ian G.Barbour.

4John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama: dari Konfik ke Dialog, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2004) hal 2

62


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


utamanya berpusat pada persoalan-persoalan dasar dalam kosmologi dan mekanika kuantum.5 Mehdi Gholsani lahir di Isfahan, Iran pada tahun 1939 M atau bertepatan dengan 131 H.

Gholsani menerima gelar B.S. dalam bidang Fisika dari Universitas Tehran dan gelar Ph.D. dalam Fisika dari University of California di Berkeley pada tahun 1969, dengan spesialisasi dalam fisika partikel. Pada tahun 1970, ia bergabung dengan Universitas Teknologi Sharif di Teheran dan menjabat sebagai ketua Departemen Fisika selama 1973- 1975 dan 1987-1989 dan sebagai wakil rektor universitas tersebut selama 1979-1981. Sejak 1991, dia menjadi profesor fisika terkemuka di sana. Ia mendirikan Fakultas Filsafat Sains di Universitas Teknologi Sharif pada tahun 1995, dan telah menjadi ketuanya sejak saat itu. Dia adalah kepala Departemen Ilmu Pengetahuan Dasar di Akademi Ilmu Pengetahuan Iran selama 1990-2000 dan menjadi direktur Institut Kajian Humaniora dan Budaya di Teheran dari 1993 hingga 2009. Golshani menerima Penghargaan John Templeton untuk Program Kursus Sains dan Agama pada tahun 1995.6

Golshani telah banyak berkontribusi dalam studi tentang hubungan dan interaksi antara sains dan agama. Pada tahun 1998, Golshani mendekati 32 ilmuwan tingkat tinggi, filsuf dan teolog (hanya enam dari mereka adalah Muslim, yang lainnya adalah Kristen dari berbagai denominasi) dengan delapan pertanyaan penting yang membahas hubungan antara sains dan agama; dia menerbitkan jawaban mereka, bersama dengan komentar panjangnya sendiri, dalam sebuah buku berjudul “Can Science Dispense with Religion?”.7

2.Konsep pemikiran agama dan sains menurut Mehdi Golshani

Istilah “sains” atau “ilmu” dalam pengertian lengkap dan komprehensif adalah serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami, kemasyarakatan dan perorangan untuk tujuan meraih kebenaran, pemahaman, penjelasan atau penerapan.8

Sedangkan agama, menurut Sir Muhammad Iqbal dalam Syarif Hidayatullah dipilah kedalam tiga dimensi: keimanan (faith), pemikiran (thought), dan petualangan diri (discovery). Sedangkan menurut Burhanuddin Daya merupakan kesempurnaan eksistensi manusia, sumber vitalitas yang mewujudkan perubahan dunia dan melestarikan kehidupan manusia. Kualitas suatu perubahan ditentukan oleh kualitas agama yang menjadi dasarnya. Agama juga saah satu sumber nilai, memiliki peran, arti bahkan sumbangan yang sangat besar dan paling tinggi harganya bagi setiap jenjang kehidupan manusia.9

Dalam kajian epistimologi Golshani, menyimpulkan bahwa Alquran menggunakan kata ‘ilm atau pengetahuan baik ketika membahas ilmu-ilmu kealaman maupun ilmu-ilmu yang lain. Dengan demikian, ia menekankan, kajian tentang alam hendaknya direkomendasikan dengan tujuan untuk menemukan pola-pola Tuhan di alam semesta (ayat-




5Musyoyih dan Aina Salsabila, “Kontribusi Konsep sains islam Mehdi Golshani dalam menyatukan epistimologi agama dan sains”. Prosding Konferensi Integritas Interkoneksi Islam dan Sains. Vo. 2 (Maret 2020) hal 96

6https://www.issr.org.uk/fellows/user/102/, diakses pada hari Kamis, 29 Oktober 2020

7https://islam-science.net/mehdi-golshani-1482/diakses pada hari kamis, 29 Oktober 2020


9Syarif Hidayatullah, “Relasi agama dan sains,,, hal 69

63


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


ayat kauniyah) dan memanfaatkan demi terwujudnya kemaslahatan umat manusia.10 Dalam kata pengatar bukunya yang berjudul the Holy Quran andthe science of Nature, Gholsani mengingatkan bahwa pembahasan dasar-dasar epistimologi dalam pandangan Al-quran untuk memperkuat kajian ilmu-ilmu kealaman merupakan hal yang masih sedikit dikerjakan dalam tradisi intelektual islam dan ia menganjurkan agar para saintis muslim untuk menyediakan lebih banyak lagi waktu dan energinya dalam berkontribusi pada persoalan yang amat penting ini.

Menurut Golshani, Sains telah membawa sejumlah kegunaan bagi umat manusia serta mendorong manusia untuk lebih mengenal dan dekat dengan penciptanya. Signifikasi sains bagi umat muslim antara lain:

1.Sains mampu meningkatkan pemahaman tentang Tuhan.

2.Sains secara efektif mampu meningkatkan peradaban islam dan mewujudkan cita-cita islam

3.Sains berfungsi sebagai panduan umat manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Jika kehadiran sains dibungkus oleh pemahaman seperti diatas maka tidak diragukan lagi ia tidak bertentangan dengan agama, bahkan sains adalah bagian dari agama itu sendiri. Dengan itu pula sains menjadi sakral dan jauh dari nilai-nilai yang bertentangan dengan agama (keilahian).11

Dalam babakan sejarah hubungan agama-sains, sosok golshani dapat dikelompokkan sebagai saintis sekaligus pemikir yang hidup ketika perdebatan agama-sains telah memasuki area kekinian. Pandangan Golshani tentang hubungan sains-agama, secara langsung telah melengkapi sekian pandangan dan gagasan sebelumnya. Hanya, jika dibandingan dengan pemikir-pemikir sebelumnya, ada kecenderungan pemikiran Golshani lebih pada keberadaan sains modern tanpa kemudian menafikan ruang agama didalamnya.

Dalam pandangan Golshani, sains dipahami sebagai cara untuk memecahkan segala fenomena alam semesta, dimana puncak dari semuanya adalah menginternalisasikan kesadaran diri terhadap keberadaan dan kekuasaan Tuhan semesta alam. Fenomena alam semesta yang ada dalam kehidupan manusia tidak sekedar kebetulan, tidak pula terjadi dalam ruang antah-berantah.

Menurut Golshani, dalam hal sains modern tidak perlu “menghipotesiskan Tuhan” juga tak menggubris wacana teologis dalam mekanisme kerja alam. Alam dipahami semata realitas fisik yang bekerja secara alamiah tanpa pengatur, terjadi secara kebetulan dengan sendirinya dan tanpa tujuan akhir. Pandangan ini menguatkan pemisah antara fakta dan nilai sebagai sesuatu yang objektif dan subjektif. Karena itu, dalam dunia sains muncul relativisme moral dengan melihat moralitas sebagai subjektifitas.12

Secara umum, pandangan Golshani tentang agama-sains relatif berkelainan dengan pemikir muslim lainnya. Sebut saja Ziaudin sardar, sayyed Hossein Nasr, Ismail Raji al  Faruqi dan Naquib al Attas, Golshani lebih cenderung menjalankan pemikirannya dengan

10Musyoyih dan Aina Salsabila, “Kontribusi Konsep sains islam,,, hal 97

11Muhammad Thoyib, “Model Integrasi sains dan agama dalam perspektif J.F Haught dan M.Golshani: landasan filososfis bagi penguatan PTAI di Indonesia”. (STAIN Ponorogo) hal 13

12Fadhlih Rifenta, “Konsep pemikiran Mehdi Golshani terhadap sains islam dan modern”. Journal Kalimah.

Vol. 17 No. 2 (September 2019) hal 171

64


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


penafsiran isami terhadap keberadaan sains modern. Berbeda darikebanyakan pemikir lainnya yang lebih cenderung memaksakan diri membangun suatu konsep sains islam.

Kontribusi terbesar Golshani, kaitannya dengan dialetika agama-sains, tercermin jelas dalam pandangan pribadinya, bahwa antara agama dan sains tidak dapat dipertentangkan. Sains dan agama bukan realitas oposisi binner, dimana satu sama lain saling bersinggungan. Golshani menegaskan, baik agama maupun sains sejatinya memiliki titik gradual dan memahami tuhan.

Menurut Golshani, Allah merupakan kenyataan tertinggi yang menjadi pusat segala bentuk aktivitas manusia. Meskipun aktifitas tersebut tidak berbentuk peribadatan formal namun ketika ia menjadi penjuru dan tujuan utama maka sains pun memiliki kedudukan yang sama dengan ilmu agama.13 Dalam kerangka inilah, Golshani memandang aktifitasnya selama ini sebagai fisikawan adalah bagian dari ibadah. Karenanya, dalam pandangannya tidak ada relasi yang bernuansa konflik atau independen dalam sains dan agama.14

Jika ditelusuri lebih dalam, pemkiran Golshani diatas berangkat dari pemahaman dirinya atas hadist Nabi Muhammad saw yang berisikan anjuran kepada seluruh umat muslim untuk mencari ilmu. Dalam pandangan Golshani, baik atau buruk, berharga atau tidaknya sebuah ilmu pengetahuan bukan ada pada identitas dirinya, namun lebih pada aspek penggunaan ilmu pengetahuan, sekaligus kapasitasnya dalam mendatangkan kedekatan kepada Tuhan semesta alam. Karena, Golshani menjelaskan bahwa setiap ilmu pengetahuan, apapun itu jenis dan rumpunnya, sepanjang masih memiliki nilai guna bagi kehidupan manusia, mengantarkan manusia menjadi lebih dekat dan mengenal Tuhan, serta dapat meninggikan derajat ketaqwaan dan keimanan, maka yang demikian harus dipelajari.15

Dalam penjelasan selanjutnya, Golshani telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan dalam dua kutub berbeda, anata ilmu sakral dan ilmu sekuler, Golshani kemudian menawarkan sebuah pengintegrasian sains-agama, yang ia sebut sains islam. Sains Islam dalam bahasa Golshani mensyaratkan atas kenyataan, bahwa setiap konsepsi keilmuwan yang dibangun oleh saintis mustahil bisa terlepas dari model konstruksi berpikirnya.16

Golshani menyebutkan bahwa ada tiga elemen pandangan hidup islam yang mempengaruhi kosntruksi ilmu pengetahuan dan sains pada khususnya, yaitu :

1.Sifat tunggal Tuhan (Tauhid) yang mempunyai arti keesaan Tuhan, mempunyai arti semua yang ada di segala penjuru alam semesta ini berakal dari zat tunggal dan semua ada dibawah kekuasaan Tuhan dan pada akhirnya semua akan kembali kepada-Nya.17 Begitu juga dengan sains, sains yang dihasilkan oleh manusia dar kegiatan berpikir terhadap fenomena alam semesta sejatinya adalah bagian dari keesaan Tuhan yang dapat berfungsi sebagai manifestasi manusia untuk mengenal dan memahami Tuhannya dalam jarak pemahaman yang lebih dekat.

2.Iman terhadap hal yang gaib supra-natural dan keterbatasan pengetahuan  manusia. Meyakini atas adanya realitas abstrak yang tidak bisa disentuh dan


13Muhammad Thoyib, “Model Integrasi sains dan agama,,, hal 12

14Mukhlisin Saad, “Pemikiran Mehdi Golshani tentang dialetika agama dan sains”. Toesofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam. Vol 6 No. 2 (Desember 2016). Hal. 343

15Mukhlisin Saad, “Pemikiran Mehdi Golshani,,,, hal. 344 16Mukhlisin Saad, “Pemikiran Mehdi Golshani,,,, hal. 349 17Musyoyih dan Aina Salsabila, “Kontribusi Konsep sains,,, hal. 99

65


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


diungkap oleh keseluruhan kemampuan manusia, pada gilirannya dapat menghadirkan kesadaran diri atas keberadaan Tuhan semesta alam. Pandangan ini menegaskan bahwa realitas tidak hanya terdiri dari yang bersifat fisik semata namun ada realitas yang tidak terjangkau oleh inderawi manusia. Iman pada reaitas supra-natural dan keterbatasan manusia akan menghasilkan pemahaman pada tingkat inderawi, non inderawi serta tiada batas waktu.18

3.Mempecayai atas tujuan akhir semesta. Keyakinan bahwa kehadiran alam jagat raya ini memiliki tujuan dan akhir tertentu. Semesta hadir bukan tanpa tujuan tetapi semuanya terjadi atas garis yang dituliskan oleh Tuhan. Pada masa yang akan datang, semua identitas ehidupan yang terbentang luas di lam semesta akan menemui akhirnya.

4.Bepergang teguh pada moral. Unsur terakhir ini mensyaratkan bahwa ilmu pengetahuan, apapun jenis dan rumpunnya, harus memuat nilai-nilai etika dan menjunjung tinggi kemanusiaan-emansipatif. Pengembangan ilmu pengetahuan (sains) harus disertai pengetahuan tentang etika. Sains tanpa disertai oleh pertimbangan-pertimbangan etika akan menjumpai banyak masalah. Pendidikan etika menjadi hal yang sangat penting untuk menumbuhkan perhatian moral dan tanggung jawab. 19

Keempat unsur diatas pada prinsipnya adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh agama ibrahimi yang menunjukkan kesamaan pandangan antara islam, kristen dan yahudi. Oleh sebab itu, Golshani menempatkan karakteristik tersebut dalam kerangka “Theistic religion”. Dalam proses konstruksi sains, Golshani kemudian meyakini bahwa keempat unsur keislaman diatas merupakan tonggak sains yang mengandung nilai-nilai moral dan tanggung hawab yang kemudian mentransormasikan dua nilai integratif yaitu nilai kemanusiaan dan nilai ketuhanan.

Kesimpulan

Istilah “sains” atau “ilmu” dalam pengertian lengkap adalah serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami, kemasyarakatan dan perorangan untuk tujuan meraih kebenaran, pemahaman, penjelasan atau penerapan.Sedangkan agamamenurut Sir Muhammad Iqbal dipilah kedalam 3 dimensi: keimanan (faith), pemikiran (thought), dan petualangan diri (discovery).

Secara umum, pandangan Golshani tentang agama-sains relatif berkelainan dengan pemikir muslim lainnya. Golshani lebih cenderung menjalankan pemikirannya dengan  penafsiran isami terhadap keberadaan sains modern. Berbeda darikebanyakan pemikir lainnya yang lebih cenderung memaksakan diri membangun suatu konsep sains islam.

Kontribusi terbesar Golshani, kaitannya dengan dialetika agama-sains, tercermin jelas dalam pandangan pribadinya, bahwa antara agama dan sains tidak dapat dipertentangkan. Sains dan agama bukan realitas oposisi binner, dimana satu sama lain saling bersinggungan. Golshani menegaskan, baik agama maupun sains sejatinya memiliki titik gradual dan memahami tuhan.


Daftar Pustaka


18Muhammad Thoyib, “Model Integrasi sains dan agama,,, hal 20

19Muhammad Thoyib, “Model Integrasi sains dan agama,,, hal 20

66


Al-MIKRAJ: Indonesian Journal of Islamic Studies and Humanities, Vol. 1 No. 2, 2020


Arthur Peacocke, Paths From Science Toward God, (Oneworld: Oxford, 2002)

Fadhlih Rifenta, “Konsep pemikiran Mehdi Golshani terhadap sains islam dan modern”. Journal Kalimah. Vol. 17 No. 2 (September 2019)

https://islam-science.net/mehdi-golshani-1482/diakses pada hari kamis, 29 Oktober 2020 https://www.issr.org.uk/fellows/user/102/, diakses pada hari Kamis, 29 Oktober 2020 Ian G.Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, (Bandung : Mizan, 2002)

John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama: dari Konfik ke Dialog, terj. Fransiskus Borgias (Bandung: Mizan, 2004)

Muhammad Thoyib, “Model Integrasi sains dan agama dalam perspektif J.F Haught dan M.Golshani: landasan filososfis bagi penguatan PTAI di Indonesia”. (STAIN Ponorogo)

Mukhlisin Saad, “Pemikiran Mehdi Golshani tentang dialetika agama dan sains”. Toesofi: Jurnal  Tasawuf dan Pemikiran Islam. Vol 6 No. 2 (Desember 2016)

Musyoyih dan Aina Salsabila, “Kontribusi Konsep sains islam Mehdi Golshani dalam menyatukan epistimologi agama dan sains”. Prosding Konferensi Integritas Interkoneksi Islam dan Sains. Vo. 2 (Maret 2020)

https://www.kti.binsarhutabarat.com/2021/03/hubungan-agama-dan-sains.html


















No comments:

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Rencana Induk Pengembangan Keilmuan

BINSAR HUTABARAT INSTITUTE: Rencana Induk Pengembangan Keilmuan :  RENCANA INDUK KAMPUS PENGEMBANGAN KEILMUAN I. Landasan Pengembangan Kei...